Prestasi 16 Mar 2026 22 kunjungan

Dari Yogyakarta ke Taiwan: Kisah Daffa, Mahasiswa Amikom yang Raih Beasiswa Penuh di Luar Negeri

Daffa Taiwan

Yogyakarta — Muhamad Daffa Miqoilla, mahasiswa S1 Informatika Universitas Amikom Yogyakarta, berhasil meraih beasiswa penuh melalui program INTENSE untuk melanjutkan studi di Taiwan Steel University of Science and Technology, jurusan Mechanical and Automation Engineering, pada Spring 2026 Intake.

Yang membuat pencapaian ini semakin istimewa: Daffa meraihnya saat masih berstatus mahasiswa aktif di Amikom Yogyakarta, dan ia memilih untuk tidak melepaskan salah satunya.

Program yang Lebih dari Sekadar Kuliah di Luar Negeri

Taiwan Intense Program bukan program pertukaran pelajar biasa. Program ini merupakan kerja sama internasional yang dijalankan Universitas Amikom Yogyakarta bersama sejumlah perguruan tinggi di Taiwan, dengan dukungan Intact Surabaya sebagai perwakilan resmi pemerintah Taiwan di Indonesia.

Skemanya tersusun dalam tiga tahapan yang saling berkesinambungan. Pertama, peserta menempuh studi di perguruan tinggi mitra di Taiwan selama satu tahun. Kedua, magang intensif selama satu tahun di perusahaan mitra. Ketiga, bekerja di perusahaan tersebut selama dua tahun setelah magang selesai.

Prof. Dr. Kusrini, M.Kom., Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Amikom Yogyakarta, menjelaskan bahwa SPP ditanggung oleh pemerintah Taiwan, sementara biaya hidup ditanggung oleh perusahaan mitra yang terlibat dalam program — sebuah skema yang nyaris menutup seluruh kebutuhan finansial peserta selama di Taiwan.

Dua Kampus, Satu Tekad

Daffa mendaftar program ini menggunakan ijazah D3 dan diterima melalui jalur 2 Year's Bachelor Program untuk melanjutkan studi S1 di Taiwan. Namun, saat itu ia juga tengah menjalani studi S1 Informatika di Amikom Yogyakarta.

Setelah berdiskusi dengan Prof. Kusrini dan Kepala Program Studi S1 Informatika, Eli Pujastuti, M.Kom., Daffa mengambil keputusan yang tidak main-main: menjalani keduanya secara bersamaan. Ia akan kuliah di Taiwan Steel University of Science and Technology sambil tetap menyelesaikan studi S1-nya di Amikom secara daring, dengan dukungan mekanisme transfer kredit.

"Sayang kalau studi yang sudah saya jalani di Universitas AMIKOM Yogyakarta ditinggalkan. Jadi saya pilih tetap lanjut, sambil menjalani kesempatan studi di Taiwan," ujar Daffa.

Proses Seleksi: Dari Media Sosial hingga Offer Letter

Perjalanan Daffa menuju beasiswa ini dimulai dari rasa ingin tahu. Ia pertama kali mengetahui program tersebut melalui media sosial, lalu mengikuti sesi sosialisasi daring untuk memahami persyaratan dan alur seleksi.

Tahap awal adalah seleksi berkas: sertifikat TOEFL minimal skor 470, surat rekomendasi dari dosen atau kepala program studi, portofolio proyek, transkrip nilai, serta ijazah. Setelah lolos, Daffa menghadapi wawancara dalam bahasa Inggris yang menggali motivasi, alasan memilih Mechanical and Automation Engineering, serta relevansi proyek yang pernah ia kerjakan — termasuk bagaimana pemahaman kecerdasan buatan dan machine learning dari Informatika berkaitan dengan pengembangan otomasi mesin.

Setelah dinyatakan lolos, Daffa menerima offer letter resmi dari Taiwan Steel University of Science and Technology dan dari perusahaan mitra — dokumen dasar pengurusan visa dan legalisasi keberangkatan.

Tantangan Bahasa yang Harus Ditaklukkan

Peserta diwajibkan mencapai kemampuan bahasa Mandarin minimal level A1 dalam waktu satu tahun setelah tiba di Taiwan. Jika gagal memenuhi target, konsekuensinya adalah menanggung biaya sendiri.

"Dalam program ini kami memang diwajibkan bisa bahasa Mandarin minimal A1, dan dikasih waktu satu tahun untuk belajar. Kalau dalam satu tahun itu belum sampai A1, konsekuensinya nanti harus membiayai sendiri. Jadi memang harus serius dari awal," kata Daffa.

Sebagai persiapan, Universitas Amikom Yogyakarta bekerja sama dengan Intact Surabaya menyelenggarakan pelatihan bahasa Mandarin gratis bagi mahasiswa yang berminat mengikuti program ini.

Belum Pernah ke Luar Negeri, Tapi Tidak Mundur

Ada satu fakta yang membuat kisah Daffa terasa lebih dekat dan menginspirasi: sebelum mengikuti program ini, ia belum pernah bepergian ke luar negeri sekalipun. Namun keterbatasan pengalaman itu tidak ia jadikan alasan untuk mundur.

Ia memilih fokus pada proses — menyiapkan diri, mencari informasi sebanyak mungkin, membangun jaringan dengan sesama peminat program, dan melakukan riset mendalam tentang sistem pendidikan serta peluang yang ada di Taiwan.

"Berani mencoba, dan wujudkan niatan tersebut. Jangan disia-siakan," pesannya.

Pelajaran dari Perjalanan Daffa

Kisah Muhamad Daffa Miqoilla bukan hanya tentang beasiswa atau studi di luar negeri. Ia adalah tentang keberanian mengambil peluang meski belum merasa sepenuhnya siap, tentang tidak melepaskan tanggung jawab yang sudah diemban, dan tentang bagaimana dukungan akademik yang tepat bisa mengubah arah perjalanan seseorang.

Bagi mahasiswa Amikom Yogyakarta — dan mahasiswa Indonesia pada umumnya — perjalanan Daffa membuktikan bahwa pintu menuju dunia internasional terbuka untuk siapa pun yang mau mempersiapkan diri dan berani melangkah.

Artikel ini disusun berdasarkan rilis resmi Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional Universitas Amikom Yogyakarta. In Collaboration With: Muhamad Daffa Miqoilla. Koresponden: Arief Setyanto, Kusrini. Sumber asli →

Bagikan artikel ini: